Bahagialah... Nikmati setiap peristiwa dalam hidupmu .....Hidup.... terlalu singkat untuk menyampah kebencian.... Tertawalah ketika kamu bisa.... Maafkanlah sebagaimana yang seharusnya kamu lakukan... Dan... Lepaskanlah apa yang tidak dapat kamu ubah.


Tampilkan postingan dengan label lhll. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lhll. Tampilkan semua postingan

File Hosting Pencuri Traffic


Menggunakan File Hosting Free untuk memuat file-file yang kita simpan dan digunakan melalui link ke situs yang kita buat dapat menghemat budget pembuatan situs. Namun sebuah situs File Hosting yang beralamat http://kiwi6.com/, sebaiknya tidak kamu gunakan untuk mengupload file-file yang terhubung ke situsmu.

Seperti yang dialami DCB, Situs Kiwi6 mencuri traffic atau kunjungan ke situs DCB (yang menggunakan link file yang disimpan di Kiwi6) dengan mengalihkan pengunjung yang membuka situs DCB ke halaman situs Kiwi6. Setelah situs DCB terbuka, dalam 10 detik tiba-tiba halaman beralih ke halaman situs Kiwi6 dan akibatnya setelah hampir 1 tahun, situs DCB kehilangan pengunjung karena tidak dapat diakses (selalu berpindah ke Halaman Kiwi6 secara otomatis).

Kecurigaan DCB muncul ketika memeriksa traffic yang tidak kunjung bertambah dalam 6 bulan terakhir, lalu meminta bantuan teman-teman DCB untuk membuka situs DCB dan yang terjadi adalah pengalihan halaman menjadi halaman Kiwi6.

Berdaya Ciptalah.

Read More

Pemalak bernama POM di Sekolah (Dasar)

Bagi orang tua yang mempunyai anak dan masih bersekolah di SD Negeri khususnya di Bandung, mungkin mempunyai pengalaman yang sama seperti ini:

“Sekelompok orang tua (biasanya para ibu) menggagas adanya POM di kelas yang merupakan kepanjangan dari Perkumpulan/Persatuan/Pengurus Orang Tua Murid. POM ini akan menarik iuran wajib dari semua orang-tua dalam wilayah kelas. Tidak ada program yang jelas yang mereka tawarkan dalam pengumpulan dana iuran POM, apalagi terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan bagi anak-anak di dalam kelas. Dana iuran POM yang terkumpul ini, mereka tebar untuk pemberian kenangan atau tunjangan bagi para guru bidang studi dan walikelas dalam bentuk tunai yang tentu saja secara tidak langsung akan mempengaruhi objektifitas para guru dalam memberikan nilai bagi para siswanya terutama anak-anak para Pemalak (POM) yang menyerahkan hasil palakannya sebagai pemberian sumbangan, sementara para korban palakannya hanya dapat mengurut dada ketika peringkat prestasi anak-anaknya selalu berada dibawah anak-anak para Pemalak ini."

Beberapa pengadaan perlengkapan kelas (katanya) juga dibiayai dari palakan POM dan kemudian menjadi pertanyaan ketika perlengkapan kelas tersebut kemudian juga dicatatkan sebagai pembelian perlengkapan oleh sekolah, tentunya akan sulit bagi auditor untuk memastikan kebenarannya karena POM tidak tercatat secara administratif dalam sistem sekolah. Para orangtua menganggap bahwa merekalah yang dipalak untuk membeli perlengkapan sekolah, sementara Dinas Pendidikan mengklaim bahwa mereka telah mengucurkan dana untuk keperluan perlengkapan sekolah tersebut.

Dilema bagi para orang-tua yang tidak bersedia membayar iuran POM adalah ketakutan bahwa anaknya akan didiskreditkan oleh para guru walaupun pada faktanya belum tentu ketakutan itu terjadi walaupun objektifitas guru sangat mungkin terpengaruhi oleh adanya dana tunai yang diberikan para pemalak POM.”

Kehadiran POM sepintas nampak menguntungkan, terutama bagi pihak yang menerima aliran dana POM tersebut. Namun secara mental, ini adalah benih perusakan generasi yang ditebar para ibu (karena sebagian besar aktifis POM adalah para ibu, dan disinilah pengenalan cara-cara korupsi atau penyimpangan diajarkan pada anak-anaknya.), merusak citra para Guru, Sekolah, Dinas Pendidikan bahkan hingga ke Kementrian Pendidikan.

Jika para Guru atau Sekolah tidak dapat menindaklanjuti untuk menyingkirkan para pemalak ini dari lingkungan sekolah negeri, rasanya Dinas Pendidikan dapat menampung informasi dari berbagai sumber tentang para Orang-tua yang menjadi aktifis POM, membandingkan prestasi anak-anak para Pemalak ini, lalu melakukan mutasi pada siswa yang menjadi anak para Pemalak ke sekolah Swasta, jika benar terindikasi mempengaruhi objektifitas Guru atau menimbulkan penyimpangan yang berakibat merusak citra akibat tumpang tindih klaim pembiayaan.

Di Sekolah Swasta, pengumpulan dana yang digiatkan oleh para orang-tua dapat terawasi oleh pihak pengelola yayasan pendidikan yang mengawasi secara langsung lembaga pendidikannya dan akan meminimalkan penyimpangan karena pengelola yayasan pendidikan justru akan terbantu dengan adanya sumbangan selain dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Di Sekolah Negeri, kekurangan dana operasional sekolah sebenarnya dapat diatasi dengan sumbangan Orang-tua berdasarkan kesepakatan yang dikelola sekolah atau menjalin kerjasama dengan korporat sehingga dapat dipertanggung-jawabkan secara administratif, tidak mempengaruhi objektifitas pengajar dan tidak merusak citra lembaga pendidikan yang bertanggung-jawab sebagai penyemai generasi yang bersih.

Untuk para Orang-tua yang menjadi korban dari para pemalak POM, silahkan melayangkan surat beserta bukti adanya POM disuatu sekolah dan praduga penyimpangannya ke Dinas Pendidikan setempat lalu mengirimkan salinannya pada Daya Cipta Budaya sebagai landasan kajian untuk melakukan class action jika surat aduan tersebut tidak ditindaklanjuti atau kemungkinan-kemungkinan lain untuk dapat mengkarantina para pelaku pemalakan yang menamakan dirinya POM.    /DCB/

Read More

Post-Colonialism (Pasca Kolonialisme)

Menuding faham kapitalis sebagai sumber kemelaratan akhir-akhir ini nampaknya menjadi isu empuk para politisi baik yang tengah berkuasa maupun yang tengah menjajaki kekuasaan untuk mendapatkan dukungan publik. Sebagaimana faham komunisme yang lebih dahulu di stempel sebagai bahaya laten yang akan dapat meruntuhkan Republik ini, isu faham-faham ini cukup efektif untuk menyulap pandangan masyarakat bahwa musuh-musuh Republik ini bersumber dari luar negerinya.

Seperti misalnya Mayday (hari buruh) yang pada awal bulan Mei 2011 ini, mengerakkan para buruh turun ke jalan membawa poster-poster anti kapitalis. Ironinya, para buruh yang menjadi robot bergerak tidak memahami bahwa Mayday sebenarnya berasal dari negara-negara kapitalis. Kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana alat-alat produksi dimiliki secara pribadi (swasta) dan menjadi dominan di Barat setelah runtuhnya Feodalisme. Sedangkan komunis adalah gerakan sosial politik yang bertujuan untuk menggulingkan sistem kapitalis dalam revolusi sosial luas. Perseteruan kedua faham luar negeri ini dengan dibumbui isu adanya konsep negara agama (non sekuler) telah menjadi ramuan jitu untuk mengalihkan perhatian publik dari fakta keadaan Republik yang masih terjerat kolonialisme yang kini dilakukan justru oleh sebagian warga Republik yang menjadi elite politik.

Mungkin istilah Neo kolonialisme telah dipergunakan beberapa kalangan untuk menggambarkan penyebaran kapitalisme ke negara lain, sehingga untuk menggambarkan keadaan yang menimpa Republik ini, akhirnya penulis menggunakan istilah Post-Colonialism atau pasca kolonialisme. Penggunaan istilah disini akan menjadi sangat penting dalam merubah mindset masyarakat mengenali musuh sebenarnya dari penyebab kemelaratan dan kerusakan di Republik ini. Gerakan anti post-colonialism dapat menjadi propaganda efektif bagi para penggerak perubahan yang benar-benar berniat kembali pada dokumen dan cita-cita luhur ketika Republik Indonesia didirikan.

Penerapan hukum kolonial yang masih terus berlanjut, korupsi, kolusi dan berbagai penyimpangan oleh para elit politik, pembodohan secara sistematis, meluasnya kemiskinan, kesenjangan sosial yang semakin melebar, rusaknya hutan, laut serta daratan yang dieksploitasi dan dilarikan ke luar negeri, mengekspor SDM sebagai budak di negeri orang dan melabeli sebagai pahlawan devisa agar tampak bergengsi, hilangnya wibawa dimata Internasional, mengecilkan makna kekayaan budaya dan sumber-sumber kebudayaan, serta masih sederet panjang pembusukan lainnya adalah pola-pola yang dilakukan penjajah pada era kolonialisme dan berlanjut dimasa post-colonialism. Jika mengurai sejarah dengan benar, setelah melepaskan diri dari kolonialisme, President Indonesia pertama yang dituduh banyak kalangan membawa Republik ke faham komunis sebenarnya dapat kita maklumi sebagai upaya mencari jati diri bangsa untuk dapat mempertahankan (survival) kedaulatan Republik. Setelah kejatuhannya, president Indonesia kedua kemudian merintis upaya mengembalikan cengkraman kolonialisme, yang di pelajarinya ketika menjadi serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger ) sehingga mampu berkuasa sangat lama dan membangun kader-kader penerus hingga kini. Orde ini dan selanjutnyalah sebenarnya yang dapat disebut sebagai post-colonialism.

Gerakan Anti post-colonialism dapat sangat efektif untuk menyadarkan bangsa ini bahwa kita tidak perlu memaafkan bangsa kita sendiri yang terlibat dalam post-colonialism. Anti post-colonialism tidak perlu berkompromi dengan propaganda palsu jasa-jasa para post-colonialism, namun sebaliknya, meminta perrtanggung-jawaban atas runtuhnya rasa percaya diri (confident) bangsa untuk menjadi masyarakat yang berdaulat. Membangun gerakan anti post-colonialism akan mampu memfokuskan arah dalam membersihkan para post-colonialism dengan dukungan penuh rakyat Indonesia yang jenuh dengan ketidak-pastian. Mengajak rakyat mempelajari dan mengenali para post-colonialism dapat membangkitkan kesadaran dan kebersamaan menggalang perubahan kearah yang benar. /cb/

Read More

OKNUM PEMERINTAH TANAH AIR

Tanah air kita Indonesia! KATA POLITISI....


tanah kita
sawah, ladang, kebun dan perkarangan rumah yang bersertifikat! kata RAKYAT MAPAN!


Masyarakat mapan adalah orang orang yang mampu membeli tanah dan sertifikatnya sekalian,


namun mapan yang kumaksud disini juga mengacu kepada mereka yang hanya sanggup membeli sertikat saja, sementara tanah nya hanya tanah ulayat. mapan jenis ini biasanya selain kaya, juga terpandang, terpandangnya tentu karna dia berpengaruh atas kekuasaan.


Kalau tidak punya sertifikat, tapi punya tanah? Nah..... ini tidak ada jaminan atas tanahnya, kendati diakui adat, namun kita tetap terjerat. Pemerintah paska kolonialis ini akan menggusur rakyatnya dengan tanpa ba, bi, bu.


Menggusur berarti mengusir dengan surat, kata kata, perbuatan, dan termasuk dengan menggunakan alat berat, yang dipakai untuk merobohkan tempat usaha anak bangsa yang notabone kehidupannya melarat.


Walaupun ditilik disisi lain, bahwa negara telah menjamin makanan, kesehatan dan sandang bagi warga negaranya yang tuna ini dan itu.


Namun bagi mereka yang hidup digubuk-gubuk, dan mencari nafkah di atas tanah negara ? akan digusur tanpa perlindungan negara. negara hanya bisa menangis, negara senasib dengan si tergusur, yang menangis tersedu sedan, namun air matanya adalah isi selokan yang penuh sampah dan sumpah serapah.


Kenyataan penggusuran jauh lebih kejam dari pemandangan si bapak yang mengusir anak. karna mengusir berarti mengata-katai dengan kalimat kasar agar siterusir enyah, karna tak tahan harga dirinya di injak injak. --konon inilah penyebab utama mengapa bangsa Indonesia tak mau dijajah.--


Air kita....... adalah air muka, KATA CENDIKIAWAN !


Air kita adalah,


laut, sungai, kali, empang dan selokan ( walau air nya tak layak mandi, mencuci, apa lagi dibuat minum, karna ulah pemerintah paska kolonial? tapi inilah air buat kita, yang dipersembahkan oleh pemerintah kita yang tak punya air muka itu.... air yang jauh dari syair syair Gesang.


(Teuku Zulfahmi, di LenteraTimur.com - Menyigi Identitas Indonesia )
_________________________________________________________________________


DayaCipta Budaya:
sangat cerdas! inilah menyigi Identitas Indonesia kini. 
sebuah renungan yang membasuh kesadaran, menentukan sikap perlunya perubahan mendasar atas Indonesia yang katanya sudah merdeka?! (mohon ijin tuk Copas)


Teuku Zulfahmi
Terima kasih, DCB...... Dan semua Sahabat sahabatku.
Namun ini bukanlah buah kecerdasan. inilah ratap yang mengiringi dukaku yang mendalam, karna hujaman panah panah penguasa telah menukik kerelung sanubari kita.
Kutahu, kalian lebih terluka dari pada aku, atau kita sama sama patah hati dengan Swami Ibu Pertiwi..... 
Beberapa tetes tinta, mengiringi air mataku. Dan lalu membeku menjadi "surat cinta kepada SAHABAT ANAK NEGERI.
Tulisan ini tinta cair.... yang membeku diatas kertas, kemudian cair lagi dalam ide ide. 
SAHABAT.... Aku menghormati bahkan mencintai KALIAN SEMUA. 
Terimaksih sudah membacanya, dan sekali lagi kuucapkan terima kasih karna SAHABAT telah berkenan atas curhatku tentang OKNUM PEMERINTAH TANAH AIR. 
Terima kasih telah sudi meliat-lihat keusilanku. 
Salam Hangat Dari Aceh.



Memandang sesuatu yang (sudah ter)biasa acapkali membuat kita menganggap lumrah hal itu terjadi. Perlu ketajaman indra untuk dapat mengabarkan bahwa Indonesia kita kini sangat membutuhkan pembaharu" yang tidak berkutat pada perdebatan kisah-kisah masa lalu dan perbedaan, 

....mengabarkan bahwa Indonesia kita kini sangat membutuhkan pemikir, pelopor dan penggerak yang mampu menyadarkan setiap orang untuk tidak pasrah dilasah
... mengabarkan bahwa Indonesia kita kini masih bukan milik rakyat Indonesia
...tetapi milik wakil" (yang mengatasnamakan) rakyat. 

Membuka wawasan seluas"nya, berpikiran terbuka dan mengabarkannya dalam tamsil yang lugas, adalah kecerdasan yang patut kita kagumi. (aku membayangkan jika tulisan TZ ini dibacakan di ruang-ruang publik, pastilah dapat menjadi picu membangkitkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia (semestinya) tak mau dijajah.


Boni Avibus:
aku juga baca...bagus banget! seperti cerita perjalanan keluar kota kemarin untuk mengenali Indonesia yang sebenarnya...


Teuku Zulfahmi:
Boni Avibus Yang Cemerlang, teruslah "berjalan keluar kota," lalu ceritakan padaku akan Pengelanaanmu yang gemilang.
Perjalananmu adalah perjuangan....! Teruskanlah SAHABATKU, karna kakimu lebih kokoh dariku.
Karna semangat pemuda mampu getarkan nurani insani, getarannya akan mampu runtuhkan gunung gunung kebathilan.


Boni Avibus: 
ya, diluar kota kemarin,
sawah-sawah semakin menyempit, rumah bertumpuk-tumpuk dan berhimpitan seperti gang" di perkotaan, yang membedakan hanya warna lumpur di sepatuku. 

Dibeberapa bukit terlihat ada rumah-rumah bagus tapi aku hanya bisa melihat dikejauhan karena terhalang pagar di kaki bukit.

Saat ayahku mencari batas-batas tanahnya yang tidak terpagar, batas itu telah berpindah di dalam dinding pagar kepala desa yang setahun lalu membeli tanah disamping tanah itu. 

Menginap di salah satu rumah penduduk semakin membuat aku bingung, 
mereka membeli air minum galon seperti orang" kota, 
membeli gas karena kayu bakar sudah susah dicari, 
dan memakai baju" sobek karena yang bagus hanya untuk jalan" ke alun", 
memotong ayam dan menggoreng telur ternak sendiri 
tapi anak"nya berebut seperti tidak pernah memakannya 
karena jika aku tidak bertamu, ayam dan telur itu untuk dijual..
semua kebingunganku tidak terjawab ayah, hingga kami tertidur....dan masih panjang lagi om...

Tanah air kita kaya raya...ini bukan katanya..
sawah ladang yg luas menghampar..milik orang kaya..
hutan gunung menjulang tinggi nan menghijau..milik orang kaya...
bumi tanah dan kandungannya milik orang kaya...
Tanah air kita kaya raya. ini kenyataanya...bukan hanya katanya ..
karena memang semua dikuasai orang kaya...
dan kami hanya orang-orang lorong-lorong kota..yg berpindah dari kota ke desa.,dari desa ke kampung..dari kampung ke gunung..dari gunung ke neraka para penguasa...
jadilah kami perambah...perambah kekayaan tanah air kita...

komentar-komentar di atas sangat bagus,saya hanya bisa mengatakan tulisan ini keren karena membuat saya jadi berpikir kembali tentang sisi lain dari Indonesia (setelah didera dengan berbagai rutinitas kantor dan kegiatan di luar kantor)


Tengku Mansoer Adil Mansoer:
Aneh, penjajah Belanda membuat suatu hukum untuk bumiputera Indonesia yg dilangsungkan dalam parlemen Belandapun hanya bumi putera Indonesia yang boleh memiliki tanah-tanah, orang -orang asing tidak mungkin membeli tanah melainkan menyewa dari bumi putera atau membayar untuk memakainya, membeli tidak mungkin.
Siapa penjajah sekarang?


Pak E Lanang:
Semboyan dulu...Demi tanah air jiwa raga siap kukurbankan...
kalau sekarang... demi harta..tanah air kukurbankan...
lalu kenana rasa cinta tanah airnya..?? 
Miris...memprihatinkan...


Tulisan ini kami Copas karena sangat inspiratif, beberapa komentar yang kami sertakan, kami pilih yang mampu menjadi pelengkap dari ketajaman tulisan. (Cipta Budaya)

Read More

Celakanya Agama, Celakanya Polisi


Agama manapun akan mengajarkan tentang mengasihi sesama dan segala kebaikan, namun agama juga dapat dipelintir oleh sebagian orang yang menjadi pemukanya untuk menghancurkan, membunuh dan mengobarkan peperangan atas nama tuhannya!. Agama seringkali dipeluk seseorang berdasarkan keturunan, bukan dasar keimanan.

Memeluk agama dengan dasar keimanan hanya sedikit dilakukan orang, karena keimanan hanya dapat tumbuh jika seseorang cukup cerdas untuk membuat keputusan. Para pemeluk agama turunan cenderung menelan mentah-mentah doktin-doktrin pemuka agama (dipelintir atau tidak) yang mengatasnamakan tuhan, nabi dan kitabnya.

Janji indah tentang surga menjadi janji ampuh untuk kepatuhan dibandingkan ancaman siksa keji di neraka. Janji-janji surga adalah harapan bagi orang-orang yang tidak mengerti tujuan hidupnya. Celakanya, hanya sedikit orang yang mengerti tujuan hidup karena sekali lagi, tujuan hanya dimiliki oleh orang-orang cerdas.

Awal Februari 2011, Pulaunesia dilanda konflik kepentingan yang mengatas-namakan agama. Para badut ramai berkomentar di media massa tentang konflik yang berdarah-darah ini tanpa satu solusipun. Namun yang cukup menarik untuk dicermati dan luput dari pengamatan para badut adalah peran polisi yang menjadi bensin dari api kemarahan tidak jelas dari para pengikut agama.

Polisi seringkali gagal mengantisipasi kerusuhan massa seperti ini (kerusuhan dimana target gerakan massa bukanlah petinggi) karena polisi mengambil peran menjadi penonton, lalu menjadi bensin dengan turut serta melakukan kekerasan ketika api kemarahan massa sudah terpercik. Tindakan lain dilakukan polisi ketika menangani demo massa pada petinggi, menghalau massa pendemo dengan kekerasan, langsung menjadi S.O.P utama, karena polisi mendapat tugas menjadi barikade penghadang. Namun karena aksi massa tersebut dilakukan tidak dengan itikad kekerasan, seringkali para pendemo kemudian dapat dibubarkan. Motto mengayomi dan melindungi hanya sebatas tulisan, dan tidak pernah diajarkan pada anggota polisi. Pistol, senapan dan pentungan adalah simbol kekerasan yang pertama disambar polisi untuk menghadapi masyarakat. Penggunaan perisai, alat pengeras suara, gas airmata dan water canon hanya menjadi cadangan perlengkapan ketika posisi terdesak. Pada beberapa kasus kecil, kekerasan polisi telah menjadi bumerang dimana gerakan massa tidak hanya dengan aksi teatrikal dan bentangan spanduk belaka namun dengan kesiapan mengantisipasi pistol, senapan dan pentungan.

Kekerasan para pengikut agama mendapat pembenaran ketika komentar-komentar para badut samasekali tidak menuduh kemiskinan dan kebodohanlah yang menjadi biang keladinya. Orang-orang miskin dan bodoh sangat mudah dikelabui untuk menegakkan dan membela kepercayaannya yang berpangkal pada tuhan, padahal seharusnya, tuhanlah yang maha segalanya yang mampu membela dan menegakan mereka. Kemiskinan dan kebodohan akibat kegagalan pejabat negara menciptakan kemakmuran dan hanya memperkaya diri sendiri menjadi dasar yang kuat terjadinya pengangguran yang memiliki waktu tanpa tujuan yang berlebihan.

Waktu tanpa tujuan yang berlebihan inilah yang menumbuhkan kesempatan bagi para penunggang surga mencekoki otak-otak kosong dengan petuah-petuah yang seolah-olah tuhan perlu perlindungan. Kemiskinan dan kebodohan membuat mereka lupa bahwa tuhan maha kuasa. Manusia seharusnya memperjuangkan kesejahteraan hidup, dan berperang melawan kemiskinan dan kebodohan.

Read More

Revolusi, Telanjangi Tirani!!!


Terinspirasi revolusi di Tumisia, kini Metir mulai bergolak dengan revolusi rakyat untuk menggulingkan president yang gagal secara budaya, gagal mensejahterakan rakyat, gagal menciptakan lapangan pekerjaan, mencurangi pemilihan agar kekuasaan dapat berlangsung turun temurun, menjadikan polisi dan peradilan sebagai alat untuk merekayasa kasus-kasus, menangkap dan membunuh pihak yang bersebrangan serta berbagai tindakan represif lainnya untuk menindas perbedaan pandangan.


Mengamati berbagai gerakan massa untuk menggulingkan tirani penyelenggara negara, rakyat Metir tampak cukup siap menghadapi polisi yang berbekal senjata dengan kemampuan beladiri bertangan kosong di garis depan, sedangkan di Lebaynon, massa menggunakan kayu dan batu untuk melawan tentara yang berbekal senjata pembunuh.

Mematahkan kaki atau lengan setiap anggota polisi/tentara yang tercecer dari barisannya, merampas senjata, dan menyerang balik menggunakan senjata mereka mungkin dapat menjadi jawaban untuk melumpuhkan alat represif tiran penyelenggara negara. Bahkan untuk tindakan yang lebih ekstrim ketika peluru tajam sudah digunakan oleh tentara/polisi, pembakaran markas-markas komando mereka, dapat menjadi sesuatu yang sah-sah saja sebagai bagian dari penyelamatan gerakan massa untuk revolusi.


Hal yang perlu diwaspadai untuk gerakan massa adalah ketika sebagian alat represif melepas seragam, menyamar sebagai bagian dari massa dan berada diantara gerakan massa untuk memecah-belah, atau seolah-olah menjadi gerakan massa tandingan sehingga internasional memandang sebagai perang antar massa, dimana kemudian sebagian pasukan yang tetap menggunakan seragam merasa sah meredam kerusuhan dengan menembaki gerakan massa yang sebenarnya. Siasat seperti ini sudah seharusnya dapat diantisipasi dengan membentuk tim pemantau untuk mengawasi penyusup atau tim pencari fakta untuk mempublikasikan bahwa gerakan tandingan merupakan pasukan alat represif yang menyamar.

Satu hal yang juga menjadi point penting untuk para revolusioner, selain mengadili tiran penyelenggara negara yang terguling, pengadilan besar harus diberlakukan juga bagi tentara dan polisi yang menjadi penghalang revolusi sebagai penghianat rakyat yang menjadi pemilik negara sesungguhnya. Penyelenggara negara bukanlah penguasa yang dapat bertindak sewenang-wenang menebar kesengsaraan dan kebangkrutan negara, serta penuh rekayasa untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Salam Revolusi untuk rakyat Metir!!! (tuan tentatif)

Keterangan foto:
  1. Anti-government protesters clash with police in downtown Cairo January 25, 2011. (REUTERS/Mohamed Abd El-Ghany)
  2. Smoke from tear gas canisters fired by police drifts over central Cairo during protests January 25, 2011. (MOHAMMED ABED/AFP/Getty Images)
  3. Lebanese soldiers fall back as protesters wield sticks and pursue them during a protest in the northern port city of Tripoli, Lebanon January 25, 2011. Sunnis protested the rising power of the Shiite militant group Hezbollah as Lebanese lawmakers gave the militant group's pick for prime minister enough support to form the next government. (AP Photo/Ahmad Omar)
  4. Demonstrators surround a water-canon truck used by police to disperse a protest in central Cairo to demand the ouster of President Hosni Mubarak and call for reforms January 25, 2011. (MOHAMMED ABED/AFP/Getty Images)
  5. Men throw tear gas canisters back towards a police vehicle in Cairo January 25, 2011. (AP Photo)
Sumber foto: http://www.boston.com

Read More

Jebakan Kuota Internet Provider Curang

Pada Awal Mei 2011, seorang narasumber yang masih kerabat dan sahabat /dcb/ mendapati pulsa pada telephone cellular-nya habis dirampok salah satu provider kartu sellular yang sekaligus menyediakan layanan internet.

Modus para provider kartu cellular ini adalah dengan menawarkan bonus kuota atau gratis xxx Kbps, Mbps atau Gbps berlaku sampai tanggal tertentu, dan ketika bonus ini digunakan, sipengguna tidak diberitahukan kapan bonus tersebut habis kuotanya. Akibat dari tidak adanya pemberitahuan ini, secara otomatis sipengguna tidak menyadari ketika penyedia layanan internet mengalihkan sistem layanan dengan menghisap pulsa sipengguna setelah habisnya kuota gratis. Bayangkan jika anda mempunyai stock pulsa cukup banyak yang sedianya untuk suatu komunikasi via telepon namun habis dalam hitungan jam akibat berselancar di internet yang anda lakukan sebagai pengisi waktu luang.

Inilah yang dialami narasumber /dcb/ ketika menggunakan layanan SMART Mobile Broadband (www.smartfren.com) dengan dua modus yang berbeda. Pada modus yang pertama, pengguna tidak diberitahukan jam berakhirnya layanan free unlimited yang dijanjikan dan pada modus yang kedua, pengguna tidak diberitahukan habisnya free quota kecuali setelah seluruh pulsanya habis (pada uji unlimited dilain waktu, jam berakhir terkadang diinformasikan; di modus quota, berlaku sampai 7 hari; jika lewat dari tanggal, quota hangus meski tidak dipakai, jika baru sehari kuota telah habis, pulsa yg tersedia secara otomatis menjadi biaya koneksi [tarif volume reguler]!).

Provider lain ada juga dilaporkan melakukan kecurangan yang serupa namun karena /dcb/ belum melakukan uji keakurasian laporan, maka /dcb/ belum dapat me-list di dalam daftar hitam ini. namun sebagai referensi, anda dapat bertanya-tanya pada teman sebelum menggunakan layanan ‘3’. Jika anda menjadi korban perampokan pulsa dan ingin berbagi agar konsumen lain tidak mengalami hal serupa, silahkan postingkan pengalaman anda melalui email kami. Setelah uji akurasi, kami akan memuatnya dalam daftar hitam /dcb/.

Berbeda dengan SMART, FlexiNet mempunyai modus bisnis yang lain lagi. Dengan meminta registrasi untuk layanan yang bisa dipilih dan menginformasikan cara untuk berhenti yang terdapat disitusnya untuk suatu paket unlimited, nampaknya seperti itikad baik. Namun, jika anda lupa untuk meng-unreg, --dipakai atau tidak-- pulsa anda akan terus dipotong hingga nol rupiah. Bahkan pada kasus 10 menit sebelum masa berakhir 24 jam, FlexiNet telah secara otomatis memperpanjang masa berlangganan sehingga ketika anda melakukan unreg, pulsa yang telah dipotong secara otomatis sudah barang tentu menjadi hangus. Keunggulan lain dari FlexiNet adalah ketika pulsa tersisa senilai dengan biaya suatu paket yang kemudian dikenakan perpanjangan otomatis sehingga saldo menjadi nol padahal FlexiNet mensyaratkan minimal saldo Rp.100,-, maka perpanjangan otomatis yang dilakukan akan menjadi paket yang tidak bisa digunakan karena anda tidak akan dapat terkoneksi meskipun status anda dinyatakan aktif ketika melakukan pengecekan berlangganan. Sebagai bahan pertimbangan tambahan, jika kecepatan, kestabilan dan keleluasaan berselancar yang anda perlukan, sangatlah salah jika memilih FlexiNet. Modem 153 kbps yang diedarkan awal 2011 benar-benar merupakan pilihan terburuk yang di uji /dcb/ pada Mei 2011 dengan signal penuh (provider lain menyediakan kecepatan sekurang-kurangnya 384 kbps). Anda tidak akan dapat membuka Gmail dengan fasilitas standart, dan banyak hambatan yang terjadi ketika anda membutuhkan informasi yang ingin diakses dari suatu search engine. Pesan, Error 502, Bad Address!, server is not accessible akan kerap anda temui.

Sekedar mengingatkan, FlexiNet adalah produk PT Telkom yang juga satu-satunya perusahaan penyedia layanan internet kabel end to end di Indonesia bermerek Speedy. Di jaringan bisnis internet dan telekomunikasi, perusahaan yang terafiliasi dengan PT Telkom adalah Telkomsel yang mempunyai produk kartu Hallo dan Simpati. Mungkin dari gambaran modus bisnis yang penuh dengan jebakan sebagaimana pengujian di atas, anda dapat memperkirakan seperti apa modus bisnis yang akan diterapkan afiliasinya. 

Tentu saja kami tidak menyarankan bangsa ini agar tidak menggunakan produk dari perusahaan Indonesia?, namun jika perusahaan tersebut justru merugikan dan menipu bangsa sendiri mengapa pula kita harus tetap berprinsip pada slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”?. Menjadi konsumen yang cerdas, menjadi Bangsa dengan Nasionalisme yang cerdas adalah kesadaran untuk mengenali itikad buruk dari mereka yang mempunyai wujud fisik serupa dengan mayoritas penduduk negeri ini, karena itikad buruk dari mereka yang berasal dari luar negeri dengan wujud fisik berbeda pastinya lebih mudah dikenali.

Read More

Daya Cipta Budaya

Jika kebudayaan dirumuskan sebagai segala apa yang dipikirkan dan dilakukan manusia, maka seni merupakan unsur yang sangat penting yang memberi wajah manusiawi, unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, irama, harmoni, proporsi dan sublimasi pengalaman manusia pada kebudayaan.

Kebudayaan akan terus berkembang ketika manusia mempunyai kebebasan berpikir untuk mencapai kebebasan menyatakan pikiran.

Sering orang mengira bahwa sumber budaya sebuah bangsa merupakan sumber yang tidak akan habis, namun punahnya benda-benda budaya –baik yang hancur atau rusak akibat kurangnya kepedulian maupun yang dilarikan keluar negeri– adalah awal sebuah bencana dimana generasi hari ini dan generasi yang akan datang akan kehilangan sumber-sumber budaya mereka. Selain warisan budaya masa lampau yang hilang, iklim untuk mengembangkan daya cipta dan imajinasi –melingkupi seluruh segi kehidupan manusia dan tidak terbatas hanya pada seni saja– jika tidak terus menerus diperkuat dan diperluas maka sumber-sumber budaya di bidang seni, sains, tehnologi, kemasyarakatan, ekonomi dan politik akan menipis sehingga suatu bangsa akan berada dalam kondisi kehilangan jati diri dan pada akhirnya hanya akan menjadi cerita bahwa bangsa tersebut pernah ada.

'
 

©2009-2016 | Daya Cipta Budaya Media | template by Aubmotion | Disclaimer | Privacy